puisi gus mus islamkah aku
sumbergambar: klik di sini Aku Merindukanmu, O, Muhammadku Gus Mus Aku merindukanmu, O Muhammadku Sepanjang jalan kuli
PuisiGus Mus; Puisi Gus Mus. 06 March 2016 23:59 By Admin. Share Tweet Google+ Pinterest. Islam agamaku nomor satu di dunia Tuhan, Islamkah aku? Share Tweet Google+ Pinterest. Populer Terkini. Penyidik Gakkum KLHK Serahkan Tersangka PETI Serta Barang Bukti ke Kejari Parimo. 17 hours ago
Puisilain yang dapat ditafsir sebagai permenungan Gus Mus ihwal momentum besar dalam Islam dan kesadaran beliau mengenai perlunya menjaga keseimbangan hubungan dengan semesta alam. Puisi itu berjudul "Selamat Idul Fitri", dipublikasikan di akun Facebook pribadinya pada 29 Agustus 2011 lalu. Kita perlu menyimak dengan khidmat yang agak panjang:
Saatini, beliau menjadi pengasuh di Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang. Karya tulisnya banyak tersebar di media massa dan dibukukan, mengupas masalah keislaman, politik, sosial, budaya. Gus Mus telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi, antara lain: (1). Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem, (2). Tadarus, Antologi Puisi, (3).
puisiguruku tercinta puisi untuk guru; puisi gus mus islamkah aku; puisi gus mus rindu kekasih; puisi hari guru dalam bahasa inggris; puisi hari guru dalam bahasa inggris beserta artinya; puisi hari guru dalam bahasa inggris brainly; puisi hari guru dalam bahasa inggris dan artinya; puisi hari guru dalam bahasa inggris dan terjemahannya
Frau Mit Bart Sucht Mann Fürs Leben. PUISI ISLAM Gus Mus salah satu karangan KH. A. Mustofa Bisri Gus Mus ………………………………………PUISI ISLAM……………………………….. Islam agamaku nomor satu di dunia Islam benderaku berkibar di mana-mana Islam tempat ibadahku mewah bagai istana Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandang Tempat aku menusuk kanan kiri Islam media massaku Cahaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam saat ini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara Islam pulsaku Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati Islam kaosku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa saja Tuhan islamkah aku?
Home » Kongkow » Puisi » Puisi Islam - Jumat, 09 Oktober 2020 1900 WIB Islam agamaku, nomor satu di dunia Islam benderaku, berkibar dimana-mana Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku Tempat aku menusuk kanan-kiri Islam media-massaku, gaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam sana-sini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk-pikuk tiada tara Islam bursaku Islam warungku, hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati Islam kausku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa Tuhan, Islamkah aku? Sajak puisi yang berjudul “PUISI ISLAM” ini di karang oleh GUSMUS, suka kata - kata terakhirnya ; “Tuhan, Islamkah aku?” Sumber Cari Artikel Lainnya
Pengantar Najwa Shihab dalam acara teve Mata Najwa edisi Gus Mus dan Negeri Teka-teki menggambarkan sosok Gus Mus sebagai ulama yang fasih mengucapkan aneka dalil sekaligus budayawan yang aktif melakoni beragam kesenian mutakhir. Kata Najwa, “…kepada Gus Mus kita dapat belajar tentang menjadi islam sekaligus Indonesia.” Demikian. Belum terlalu lama, Yayasan Yap Thiam Hien memberi penghargaan Yap Tiap Thiam Hien Award yang fokus di bidang perjuangan Hak Asasi Manusia HAM kepada Gus Mus. Agak nakal Gus Mus menyebut penghargaan yang diberikan kepadanya itu sebagai hal yang “lebay”. Menurut beliau, penghargaan itu tidak cocok dengan kegiatan beliau selama ini yang tidak lantang berjuang di bidang HAM. Hadir dalam Mata Najwa Trans TV edisi 13 Juni 2018 ialah Todung Mulya Lubis, ketua Yayasan Yap Thiam Hien. Menanggapi istilah “lebay” dari Gus Mus ia memberi penjelasan lekas masuk akal bagi pemirsa. Kendati menurut sebagian orang Gus Mus bukan pejuang HAM, Yayasan Yap Thiam Hien menyikapinya berlainan. Jajaran yayasan meneliti rekam jejak Gus Mus lantas berani mengatakan bahwa selama ini segala yang dikerjakan Gus Mus ialah untuk HAM walaupun Gus Mus tidak pernah menyebut-nyebut tentang Hak Asasi Manusia. Membela hak untuk beribadah, membela hak untuk beragama, membela keberagaman, membela kedamaian, menolak segala bentuk korupsi dan sebagainya. Itulah deretan alasan yang menyatakan bahwa Gus Mus sosok yang tepat untuk menerima penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017. Pernyataan Todung yang perlu saya kutip ialah kejujurannya menyatakan bahwa jalan Gus Mus dalam membela HAM berlainan dengan Munir Thalib—aktivis HAM yang jelas kita kenal rekam jejaknya. “Gus Mus memang tidak ikut kamisan. Gus Mus ini bukan Munir yang berteriak lantang. Tapi dari puisi-puisi, khotbah, dan semua yang dilakukan oleh Gus Mus, memang memberikan semua komitmennya untuk membangun Indonesia yang hormat terhadap hak asasi manusia”. Rimbun Inklusivitas Puisi Gus Mus adalah kiai yang gemar menulis puisi. Puisi-puisinya menyuarakan berbagai permasalahan sosial dan terutama juga merepresentasikan nilai-nilai Islam yang inklusif. Banyak di antara puisi yang ditulisnya di kurun waktu 1990an masih relevan dengan geliat laju zaman terkini. Meski mengaku tak pernah belajar pengetahuan mengenai nasionalisme, hak asasi manusia, dan beragam ilmu pengetahuan modern ala barat, nyatanya beliau seorang nasionalis yang memiliki ragam pengetahuan modern yang tak kalah baik dengan pengetahuannya tentang islam. Puisi-puisinya menjadi bukti kedalaman pikir Gus Mus menapaki jalan berpengetahuan dan beragama dalam kaidah sosial Indonesia. Kita simak sedikit Tebak saja/Jangan tanya siapa/Membunuh buruh dan wartawan/Siapa merenggut nyawa/Yang dimuliakan Tuhan/Tebak saja/Jangan tanya siapa/Membakar hutan dan emosi rakyat/Siapa melindungi penjahat keparat/Jangan tanya mengapa Negeri Teka-teki, 1997. Pembaca lekas menduga Gus Mus memiliki basis pengetahuan atawa informasi yang memadai terkait beragam permasalahan negeri. Konflik buruh dengan perusahaan, penganiayaan wartawan, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan baru, para koruptor yang nyenyak tiduran di sofa pemerintahan. Sebagai penyair beliau tak tegas menyebut negeri dalam puisi ialah negeri yang dicintainya Indonesia Raya. Pembaca disilakan menafsir sendiri sebab penyair telah memilih lema “Negeri Teka-teki” sebagai judul puisi. Tebak saja dan jangan tanya, katanya. Puisi lain yang dapat ditafsir sebagai permenungan Gus Mus ihwal momentum besar dalam Islam dan kesadaran beliau mengenai perlunya menjaga keseimbangan hubungan dengan semesta alam. Puisi itu berjudul “Selamat Idul Fitri”, dipublikasikan di akun Facebook pribadinya pada 29 Agustus 2011 lalu. Kita perlu menyimak dengan khidmat yang agak panjang Selamat idul fitri, bumi/Maafkan kami/Selama ini/Tidak semena-mena/Kami memerkosamu//Selamat idul fitri, langit/Maafkan kami/Selama ini/tidak henti-hentinya/ Kami mengelabukanmu//Selamat idul fitri, mentari/Maafkan kami/Selama ini/Tidak bosan-bosan/Kami mengaburkanmu//Selamat idul fitri, burung-burung/Maafkan kami/Selama ini/Tidak putus-putus/Kami membrangusmu//Selamat idul fitri, tetumbuhan/Tidak puas-puas/Kami menebasmu//. Sebagai salah seorang tokoh yang dituakan dalam organisasi islam sebesar Nahdlatul Ulama NU, Gus Mus terbaca sebagai sosok yang berani jujur menanggapi kehidupan beragama dalam realitas sosial. Mari kita baca puisinya yang berjudul “Puisi Islam”. Islam organisasiku/Islam perusahaanku/Islam yayasanku//Islam istanaku, menara dengan seribu pengeras suara/Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara…/Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci/Islam festivalku memeriahkan hari-hari mati…/Islam seminarku, membahas semua/Islam upacaraku, menyambut segala/Islam puisiku, menyanyikan apa saja//Tuhan Islamkah aku? NU jelas organisasi Islam tempat Gus Mus aktif berkegiatan. Tradisi tempat ibadah kaum muslimin khususnya di Indonesia karib dengan pengeras suara untuk berbagai peristiwa berkelindan dengan ibadah mengumandangkan azan, iqamah, melakukan puji-pujian, khotbah. Muktamar ialah bahasa khas NU dan ormas islam lain di Indonesia dalam menamai pertemuan tertinggi guna merumuskan penyelesaian atas permasalahan yang ada dalam tubuh keorganisasian. Puisi diakhiri dengan pertanyaan penyair yang lekas jadi pertanyaan bagi pembaca dan susah peroleh jawab. Tuhan, Islamkah aku? Buah dari Pohon Pendidikan Kampung Mengaku tak pernah mengenyam pendidikan modern dan baru belakangan belajar mengenai ilmu-ilmu pengetahuan modern barat dari kecanggihan media internet, Gus Mus tumbuh di lingkungan pendidikan pondok pesantren sejak belia. Pendidikan yang diterima Gus Mus ialah pendidikan tradisional berbasis pesantren. Menarik ketika beliau menceritakan ihwal gurunya di masa-masa belajar di pondok pesantren dulu. Beliau menyebut gurunya sebagai orang kampung, kiai kampung. Kepada Gus Mus, kiai itu pernah bilang begini “Kamu itu manusia punya hak, tapi juga punya kewajiban. Dalam bahasa arab, al-haqqu bisa berarti hak, bisa berarti kewajiban. Jangan pikirkan hakmu, tapi pikirkan kewajibanmu terhadap hak orang lain, orang lain memiliki hak sebagai manusia, maka hargailah itu sebagai tanggung jawabmu”. Kecanggihan pandangan sang guru membekas kian dalam, menghunjam dan leram dalam diri Gus Mus. Segala kegiatan dan karya-karya puisi Gus Mus rasa-rasanya memang terbaca menuju ambisi menghargai hak orang lain. Sebagai warga negara Indonesia, ia juga seorang republikan tulen yang memegang penuh kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. Rasa cinta kepada tanah air rupanya juga buah dari pendidikan sang guru kampung. Pesan sang guru perlu saya kutip penuh sebagai berikut. “Indonesia ini rumahmu, jaga, rawat. Orang yang ada di Indonesia adalah saudara-saudaramu. Ada yang setara ayahmu, kakekmu, ibumu, adik-adikmu. Maka itu jaga. Ini rumahmu tempat kau dilahirkan, tempat kau menghirup udaranya, tempat kau bersujud, tempat kelak mungkin kau dikebumikan. Jaga dan rawat. Sesederhana itu.” Belajar menjadi Islam dan kemudian Indonesia sejatinya memang sederhana pabila kita membaca sosok Gus Mus beserta karyanya. Berpegang pada dua lema kunci yakni “jaga dan rawat” kita lekas perlu lebih banyak menjaga dan merawat keberagaman yang ada. Agama, suku, tanah, laut, udara, hak asasi manusia, dan segala hal yang berkelindan dengan Indonesia. Sudah Islamkah kita? Sudah Indonesiakah kita? Wallahu Alam Bisshawab. Author Recent Posts Tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, dan seni-budaya. Tulisannya pernah dimuat di Solopos, Kabar Madura, dan Radar Bojonegoro. Instagram lailymuallifa
Kutipan kalimat di atas adalah penggalan “Puisi Islam“ karya salah satu pemimpin Islamis, Indonesia, Rais Aam Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Mustofa Bisri. Akrab dengan sebutan Gus Mus, Mustofa Bisri dikenal juga sebagai penulis kolom dan budayawan terkemuka di tanah air. Puisi tersebut kembali diperdengarkan dalam sebuah acara yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Januari lalu. Acara tersebut merupakan kerjasama seni budaya antara Gus Mus dengan dengan seniman Jaya Suprana, tokoh Museum Rekor Indonesia. Apa kira-kira pesan yang ingin disampaikan Gus Mus lewat puisi ini? Lengkapnya puisi tersebut PUISI ISLAM Islam agamaku nomor satu di dunia Islam benderaku berkibar di mana-mana Islam tempat ibadahku mewah bagai istana Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya Islam sorbanku Islam sajadahku Islam kitabku Islam podiumku kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku Tempat aku menusuk kanan kiri Islam media massaku Gaya komunikasi islami masa kini Tempat aku menikam sana sini Islam organisasiku Islam perusahaanku Islam yayasanku Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara Islam bursaku Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi Islam makananku Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati Islam kaosku Islam pentasku Islam seminarku, membahas semua Islam upacaraku, menyambut segala Islam puisiku, menyanyikan apa saja Tuhan, Islamkah aku? Di akun facebooknya, Mustofa Bisri, menulis ia tak tahu dan tak peduli apa tanggapan para menteri, pimpinan DPR, jendral-jendral, para ustadz, para cerdik-cendekiawan, budayawan dan seniman yang hadir malam itu tentang puisinya. Bagaimana tanggapan Anda?
Jakarta, NU OnlineKamis malam 28/1 bertempat di Gedung kesenian Jakarta, KH Mustofa Bisri menerima tantangan dari pianis senior Jaya Suprana. Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang itupun tak mengelak. Tantangan pendiri Musium Rekor Indonesia MURI itu dibalas oleh kiai yang biasa disapa Gus Mus. "Lu Semau Lu, Gue Semau Gue," itu Gus Mus kembali ke medan sastra dengan membaca beberapa bait puisi. Menurut alumni Universitas Al Azhar Mesir ini, puisi yang ia baca terbagi dalam tiga kategori, yakni sebagai warga dunia, sebagai muslim, juga sebagai warga ini salah satu bait puisi berjudul "Puisi Islam" Islam agamaku nomor satu di duniaIslam benderaku berkibar di mana-manaIslam tempat ibadahku mewah bagai istanaIslam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnyaIslam sorbankuIslam sajadahkuIslam kitabkuIslam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandangkuTempat aku menusuk kanan kiriIslam media massakuGaya komunikasi islami masa kiniTempat aku menikam sana siniIslam organisasikuIslam perusahaankuIslam yayasankuIslam istansiku , menara dengan seribu pengeras suaraIslam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada taraIslam bursakuIslam warungku hanya menjual makanan sorgawiIslam supermarketku melayani segala keperluan manusiawiIslam makanankuIslam teaterku menampilkan karakter-karakter suciIslam festifalku memeriahkan hari-hari matiIslam kaoskuIslam pentaskuIslam seminarku, membahas semuaIslam upacaraku, menyambut segalaIslam puisiku, menyanyikan apa sajaTuhan Islamkah aku?Red ZunusFoto Page Facebook 'Ahmad Mustofa Bisri'.
puisi gus mus islamkah aku