puasa bukan sekedar menahan lapar
Halpertama yang kita puasakan adalah perut. Namun, puasa perut bukan sekedar mempuasakannya dari lapar dan dahaga. Meskipun ada makanan dan minuman halal, kita tidak akan memakan dan meminumnya saat puasa. Apalagi jika makanan dan minuman itu haram. Dari puasa Ramadhan, kita belajar untuk mempuasakan perut kita.
Iaselalu tanamkan niat agar puasa ramadhannya tidak sekedar menahan lapar dan haus. zaman Nabi-Nabi terdahulu hingga saat ini yaitu dengan menahan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari bukan menahan lapar dan haus sejak selesai waktu imsak hingga waktu berbuka. Ana paham dengan aturan itu tapi untuk konsisten pada aturan
Sahabatcurhat bidan, tau gak sih ternyata puasa bukan hanya sekedar ibadah lho! Banyak penelitian yang menyatakan bahwa puasa baik untuk tubuh karena membantu detoksifikasi. Selain itu puasa juga bisa untuk menurunkan bisa berat badan, meningkatkan kecerdasan, menghindari dari penyakit kornis dan masih banyk lagi. Menahan lapar seharian
Ternyata Puasa bukan hanya sekedar menahan HAUS dan LAPAR.. Bismillahirrohmaanirrohim Alhamdulillah bulan Ramadhon bulan penuh kemuliaan akan datang insyaallah dalam beberapa jam kedepan, semoga kita masih diberikan kesempatan untuk menjumpainya aamiin
PuasaBukan Sekedar Menahan Lapar dan Haus YouTube from lapar dan haus memang menjadi rutinitas yang mungkin terasa berat, terutama saat baru memulai ibadah puasa. Tanpa mengurangi kekuatan doa menahan lapar dan haus saat puasa, pada kesempatan ini saya ingin berbagi tips cara menahan lapar saat berpuasa.
Frau Mit Bart Sucht Mann Fürs Leben. Halodoc, Jakarta – Tidak terasa sebentar lagi bulan Ramadan tiba. Di bulan yang suci tersebut, umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Saat berpuasa, seseorang tidak makan dan minum selama lebih dari setengah hari. Enggak heran tidak sedikit orang yang menganggap puasa sebagai aktivitas yang berat untuk dilakukan. Tapi kenyataannya, puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, lho. Ada banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dari menjalani puasa. Yuk, cari tahu manfaat puasa bagi kesehatan di sini. Ketika berpuasa, tubuh mengalami perubahan akibat tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman sama sekali selama 14 jam. Jadi, wajar saja bila kamu merasa lemas dan pusing saat berpuasa. Kondisi tersebut terjadi karena saat berpuasa, kadar glikogen, glukosa, lemak, dan protein di dalam tubuhmu akan menurun. Tapi, sebenarnya tubuh mampu berpuasa bila diberi asupan terlebih dahulu. Itulah mengapa kamu dianjurkan untuk tidak melewatkan sahur selama berpuasa. Dengan mengonsumsi sahur, tubuh bisa mendapatkan cadangan energi yang membuatnya mampu bertahan tanpa asupan makanan dan minuman selama sekitar 8–10 jam. Bila cadangan energi yang dihasilkan dari asupan gula sudah habis, tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber energi berikutnya. Ini bisa membuat berat badan kamu menurun, lho. Baca juga Bakar Lemak Perut Saat Puasa, Bisa! Enggak terbatas hanya untuk beribadah saja, aktivitas menahan lapar dan haus ini juga baik untuk dilakukan siapa saja secara teratur, lho. Ini karena puasa bisa mendatangkan banyak manfaat kesehatan bila dilakukan dengan cara yang benar. 1. Baik untuk Kesehatan Jantung Menurut penelitian, mereka yang berpuasa sebulan sekali memiliki risiko 58 persen lebih rendah terkena penyakit jantung, dibandingkan mereka yang tidak menjalani puasa, lho. Beberapa penelitian lain juga menyatakan bahwa berpuasa bisa mengurangi resistensi insulin yang menjadi pemicu diabetes. Namun demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih menyeluruh. Yang perlu diingat, untuk menjaga kesehatan jantung, faktor-faktor lain, seperti pola makan dan olahraga juga memiliki peran penting. Baca juga Kesehatan Jantung Terjaga Saat Puasa, Ini Buktinya 2. Membantu Memperbaiki Masalah Kesehatan Menjalankan puasa diiringi dengan pola makan sehat, sebelum dan sesudahnya bisa membantu memperbaiki beberapa masalah kesehatan, seperti radang usus besar, radang sendi, serta penyakit kulit, seperti eksim dan psoriasis. 3. Mencegah Kanker Saat berpuasa, laju pembelahan sel dalam tubuh akan melambat seiring faktor pertumbuhan yang menurun akibat terbatasnya asupan. Dengan demikian, puasa dipercaya bisa mencegah atau mengurangi risiko seseorang terkena kanker. 4. Menjaga Berat Badan Ketika asupan gula yang merupakan sumber energi utama sudah habis, maka tubuh akan membakar lemak untuk mengubahnya menjadi energi. Nah, pembakaran lemak inilah yang dapat membantu mengurangi berat badan, bahkan mengurangi tingkat kolesterol. Bila berat badan tetap terjaga, maka diabetes dan tekanan darah pun juga dapat dikendalikan dengan baik. Puasa memang dapat membuat berat badan turun secara otomatis, karena kamu tidak makan dan tidak mendapat asupan kalori selama berpuasa. Tapi, hati-hati, berat badan bisa kembali naik begitu kamu berbuka puasa. Sebab ketika berpuasa, kamu hanya kehilangan cairan, bukan berat badan substansial. Apalagi bila kamu kalap saat berbuka puasa. Karena itu, penting untuk tetap mengendalikan nafsu makan saat kamu tidak berpuasa. Selain itu, kamu juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat memberikan tubuhmu cukup energi, seperti makanan yang mengandung karbohidrat, protein, serat dan lemak dalam jumlah yang seimbang. Baca juga 5 Tips Tetap Kuat Tahan Lapar Saat Puasa Tanpa Kekurangan Nutrisi Itulah beberapa manfaat puasa untuk kesehatan. Jangan lupa download juga Halodoc sebagai teman penolong untuk membantu menjaga kesehatan kamu selama puasa. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa menghubungi dokter untuk membicarakan masalah kesehatan apa saja yang terjadi selama puasa kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Puasa di bulan ramadhan merupakan salah satu rukun islam yang wajib bagi umat muslim. Perintah itu termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat itu, setiap muslim yang sudah baligh dan berakal wajib untuk melaksanakan ibadah puasa. Secara harfiah, puasa adalah menahan rasa lapar dan haus dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tapi, lebih dari itu, puasa adalah ajang bagi kita untuk mengendalikan diri. Untuk itu, marilah kita berusaha agar puasa kali ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus semata. Lebih dari itu, puasa adalah sarana bagi kita untuk menahan hawa nafsu. Manusia berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia itu sempurna karena memiliki dua komponen dari makhluk hidup, yaitu akal dan hawa nafsu. Manusia, malaikat, dan hewan tidak lepas dari dua hal di atas. Malaikat diberi akal tapi tidak diberi hawa nafsu. Oleh sebab itu, malaikat merupakan makhluk Allah yang mulia karena akalnya yang memimpin. Sementara hewan hanya diberi hawa nafsu tanpa akal. Itu sebabnya siklus hewan tidak lebih dari sekadar makan, minum, dan urusan seks. Manusia memiliki keduanya yaitu hawa nafsu dan akal. Untuk itu manusia disebut sebagai makhluk sempurna. Manusia bisa lebih mulia dari hewan karena manusia tidak bisa lebih mulia dari malaikat karena memiliki hawa nafsu. Untuk itu, manusia senantiasa melakukan kesalahan karena memiliki hawa nafsu. Puasa adalah salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu. Menurut Imam Ghazali, sumber utama kemasiatan manusia adalah hawa nafsu yang ada di dalam diri bahan bakar hawa nafsu adalah makanan. Dengan mengurangi makan dan minum, maka bisa mengendalikan hawa nafsu. Dan puasa adalah jawaban dari itu semua. 1 2 3 Video Pilihan
TIAP kali memasuki Ramadhan kita merasakan “naluri beragama” gharizatu at-tadayyun kita meningkat, terasa kuat, seiring gambaran suasana Islami yang akan mengitari kita selama sebulan penuh. Setiap Muslim sangat menantikan datangnya Ramadhan, meski hampir selalu saja terjadi kontroversi atau perbedaan pendapat soal kepastian awal Ramadhan. Dipastikan, melihat suasana Ramadhan sebelumnya, suasana Islami akan terjadi di sekitar kita. Masjid-masjid dipenuhi jamaah taraweh, pengajian, dan acara-acara keislaman lainnya. Sungguh, keislaman kaum Muslim terasa dan terlihat pada bulan Ramadhan. Kewajiban kita sebagai kaum Muslim sebenarnya cuma satu selama Ramadhan, yakni berpuasa –menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan suami-istri— sejak imsak atau jelang terbit fajar masuk waktu shalat Subuh hingga terbenam matahari masuk waktu shalat Magrib. Namun, mengingat Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan Allah SWT, pahala ibadah dilipatgandakan, dan Allah SWT menjanjikan “siapa berpuasa penuh keimanan dan keikhlasan akan diampuni dosanya yang telah lalu dan menemukan dirinya kembali suci pada akhir Ramadhan”, maka kita merasa tidak cukup, merasa tidak puas, dengan hanya “sekadar” berpuasa pada bulan Ramadhan itu. Kita ingin melakukan ibadah ekstra, seperti ibadah “khas” Ramadhan lainnya yang sifatnya sunah –tarawih—plus tadarus atau membaca Al-Quran, belajar atau mendalami Islam, mengikuti ceramah tarawih, ceramah Subuh, bersedekah, dan sebagainya. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, yaitu malam tanggal-tanggal ganjil 21, 23, 25, 27, 29, kita “berburu” menemukan satu malam “khoirun min alfi syahrin”, lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qodar Malam Penentuan. Ibadah pada malam itu bernilai seribu bulan ibadah! Subhanallah. Rasulullah Saw pun mengajarkan dan memberi teladan i’tikaf, berdiam diri di masjid untuk khusyu’ beribadah kepada Allah, demi menemukan Lailatul Qodar. “Carilah Lailatul Qodar pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan” HR. Bukhari. RAMADHAN memang bulan istimewa. Ramadhan juga bulan kemenangan umat Islam. Sejarah Islam menunjukkan, mayoritas kemenangan umat Islam dalam sejumlah peperangan dan medan dakwah, terjadi pada bulan Ramadhan –mulai dari Perang Badar hingga Perang Oktober Arab-Israel 1973. Faktor utamanya, karena Allah SWT “turun tangan” menolong kaum Muslimin untuk mengatasi berbagai rintangan dakwah dan jihad, disebabkan kedekatan kaum Muslimin dengan-Nya selama Ramadhan. Keistimewan bulan Ramadhan, jika kita rinci, antara lain Bulan Diturunkan Al-Quran. “Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi sekalian manusia dan membawa keterangan yang menjelaskan petunjuk dan perbedaan antara yang benar dengan yang salah” QS. Al-Baqarah 185. Pintu Syurga Terbuka Luas. “Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu syurga akan dibuka” HR. Bukhari. Pintu Rahmat Terbuka Luas. “Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu rahmat” HR. Muslim. Pintu Langit Terbuka Luas. Amal ibadah, utamanya puasa, langsung sampai kepada Allah SWT. “Bila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka” HR. Bukhari. Pintu-Pintu Neraka Tertutup Rapat. “Apabila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka jahanam ditutup” HR. Bukhari. Setan dan Jin Dirantai. “Bila tiba malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu juga jin yang derhaka” HR. Tirmizi. Maka, jika ada manusia yang tetap saja melakukan maksiat atau kejahatan pada bulan Ramadhan, semata-mata karena akhlak atau perangainya yang busuk dan menjadi budak nafsu. SATU hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu soal pembatal puasa. Secara fiqih, puasa batal karena makan, minum, berhubungan badan, muncul niat berbuka, dan muntah yang disengaja. Namun, puasa juga bisa batal pahalanya jika kita tidak menahan diri dari perbuatan buruk, seperti bergunjing, menyakiti orang, berkata dusata, keji, dan cabul, dan sebagainya. “Puasa bukanlah sekadar menahan dari makan dan minum” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menerangkan “Seorang yang berpuasa adalah orang yang anggota badanya berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa, lisannya berpuasa dari kata dusta, kata keji, dan ucapan palsu, perutnya berpuasa dari makanan dan minuman, kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Bila dia berbicara, tidak berbicara dengan sesuatu yang mencacat puasanya, bila berbuat, tidak berbuat dengan suatu perbuatan yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya keluar dalam keadaan baik dan manfaat. “ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya. HR. Bukhari. ”Bisa jadi seorang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga” HR Ibnu Hibban. “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu ucapan sia-sia dan rafats ucapan kotor, maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. “Janganlah kamu saling mancaci bertengkar mulut sementara kamu sedang berpuasa. Maka bila seseorang mencacimu katakana saja Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” HR. Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Imam Ahmad. Wallahu a’lam.
Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, namun juga menahan diri dari perbuatan buruk. TIAP kali memasuki Ramadhan kita merasakan “naluri beragama” gharizatu at-tadayyun kita meningkat, terasa kuat, seiring gambaran suasana Islami yang akan mengitari kita selama sebulan penuh. Setiap Muslim sangat menantikan datangnya Ramadhan, meski hampir selalu saja terjadi kontroversi atau perbedaan pendapat soal kepastian awal Ramadhan. Dipastikan, melihat suasana Ramadhan sebelumnya, suasana Islami akan terjadi di sekitar kita. Masjid-masjid dipenuhi jamaah taraweh, pengajian, dan acara-acara keislaman lainnya. Sungguh, keislaman kaum Muslim terasa dan terlihat pada bulan Ramadhan. Kewajiban kita sebagai kaum Muslim sebenarnya cuma satu selama Ramadhan, yakni berpuasa –menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan suami-istri— sejak imsak atau jelang terbit fajar masuk waktu shalat Subuh hingga terbenam matahari masuk waktu shalat Magrib. Namun, mengingat Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan Allah SWT, pahala ibadah dilipatgandakan, dan Allah SWT menjanjikan “siapa berpuasa penuh keimanan dan keikhlasan akan diampuni dosanya yang telah lalu dan menemukan dirinya kembali suci pada akhir Ramadhan”, maka kita merasa tidak cukup, merasa tidak puas, dengan hanya “sekadar” berpuasa pada bulan Ramadhan itu. Kita ingin melakukan ibadah ekstra, seperti ibadah “khas” Ramadhan lainnya yang sifatnya sunah –tarawih—plus tadarus atau membaca Al-Quran, belajar atau mendalami Islam, mengikuti ceramah tarawih, ceramah Subuh, bersedekah, dan sebagainya. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, yaitu malam tanggal-tanggal ganjil 21, 23, 25, 27, 29, kita “berburu” menemukan satu malam “khoirun min alfi syahrin”, lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qodar Malam Penentuan. Ibadah pada malam lailatul qodar bernilai seribu bulan ibadah! Rasulullah Saw pun mengajarkan dan memberi teladan i’tikaf, berdiam diri di masjid untuk khusyu’ beribadah kepada Allah, demi menemukan Lailatul Qodar. "Carilah Lailatul Qodar pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan" HR. Bukhari. Keistimewan Bulan Ramadhan Ramadhan memang bulan istimewa. Ramadhan juga bulan kemenangan umat Islam. Sejarah Islam menunjukkan, mayoritas kemenangan umat Islam dalam sejumlah peperangan dan medan dakwah, terjadi pada bulan Ramadhan –mulai dari Perang Badar hingga Perang Oktober Arab-Israel 1973. Faktor utamanya, karena Allah SWT “turun tangan” menolong kaum Muslimin untuk mengatasi berbagai rintangan dakwah dan jihad, disebabkan kedekatan kaum Muslimin dengan-Nya selama Ramadhan. Keistimewan bulan Ramadhan, jika kita rinci, antara lain 1. Bulan Diturunkan Al-Quran. "Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi sekalian manusia dan membawa keterangan yang menjelaskan petunjuk dan perbedaan antara yang benar dengan yang salah" QS. Al-Baqarah 185. 2. Pintu Syurga Terbuka Luas. "Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu syurga akan dibuka" HR. Bukhari. 3. Pintu Rahmat Terbuka Luas. "Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu rahmat" HR. Muslim. 4. Pintu Langit Terbuka Luas. Amal ibadah, utamanya puasa, langsung sampai kepada Allah SWT. "Bila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka" HR. Bukhari. 5. Pintu-Pintu Neraka Tertutup Rapat. "Apabila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka jahanam ditutup" HR. Bukhari. 6. Setan dan Jin Dirantai. "Bila tiba malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu juga jin yang derhaka" HR. Tirmizi. Maka, jika ada manusia yang tetap saja melakukan maksiat atau kejahatan pada bulan Ramadhan, semata-mata karena akhlak atau perangainya yang busuk dan menjadi budak nafsu. Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar Dahaga Satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu soal pembatal puasa. Secara fiqih, puasa batal karena makan, minum, berhubungan badan, muncul niat berbuka, dan muntah yang disengaja. Namun, puasa juga bisa batal pahalanya jika kita tidak menahan diri dari perbuatan buruk, seperti bergunjing, menyakiti orang, berkata dusata, keji, dan cabul, dan sebagainya. “Puasa bukanlah sekadar menahan dari makan dan minum” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menerangkan “Seorang yang berpuasa adalah orang yang anggota badanya berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa, lisannya berpuasa dari kata dusta, kata keji, dan ucapan palsu, perutnya berpuasa dari makanan dan minuman, kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Bila dia berbicara, tidak berbicara dengan sesuatu yang mencacat puasanya, bila berbuat, tidak berbuat dengan suatu perbuatan yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya keluar dalam keadaan baik dan manfaat. “ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya. HR. Bukhari. ”Bisa jadi seorang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga” HR Ibnu Hibban. “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu ucapan sia-sia dan rafats ucapan kotor, maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. “Janganlah kamu saling mancaci bertengkar mulut sementara kamu sedang berpuasa. Maka bila seseorang mencacimu katakana saja Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” HR. Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Imam Ahmad. Semoga puasa Ramadhan kita tidak sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga berpuasa dari segala keburukan sehingga terbiasa beramal baik setelah Ramadhan. Amin! Wallahu a’lam bish-shawabi.
Makanan 1 by Ist PUASA bukan hanya soal menahan lapar saja. Tapi juga menahan atau mengendalikan segala emosi dan hawa nafsu. Juga ada tindakan nyata untuk berbuat baik pada sesama. “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Bukan. Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri. Yes 584,6-7. Sikap apa yang hendak aku ubah atau kendalikan selama puasa? Tindakan baik apa yang akan aku lakukan hari ini dan esok?
puasa bukan sekedar menahan lapar